Aku lelah ya Allaaah....
sampai kapan perjalanan ini begini? penuh aral melintang? penuh perih, berliku. Apakah aku benar2 tidak pantas mendapatkan kebahagiaan? Kenapa semua pihak hanya menyudutkanku? seolah aku lah yang paling salah? aku terhimpit, aku terjepit, aku tak tau harus berbuat apa. Aku tak ingin mengecewakan siapapun.. tapi apa dayaku? kenapa aku yang dipojokkan? kenapa seolah semua mata memandangku sinis? menghujam, menusuk. Ingin rasanya aku pergi, hengkang, escape.. tapi kemana? saat semua orang telah memandangku sinis. Sekitarku telah memandangku sebelah mata. aku tak lagi berguna. untuk apalagi hidup ini? bahkan, orang--orang yang sangat kucintai, sangat kuharapkan menjadi pelindungku pun telah memandangku sebelah mata, dan terus menekanku.. aku lelaaah ya Allaaah...
Selengkapnya...
Lelaaahhh
LONELY...
Pagi ini aku tersenyum sendiri.. lucu.. menertawakan diri.. suatu waktu aku ingin sekali benar2 sendiri, menyendiri, tidak bertemu siapapun, tidak terlibat pembicaraan dengan siapapun, tidak disapa siapapun, tidak mendengar perkataan siapapun, tidak diusik oleh seorangpun... Namun.. tiba-tiba pula kala kesendirian itu datang, aku merasa kesepian, aku merasa tak berguna, aku merasa tak siapapun peduli, aku merasa semua orang egois, aku merasa hina, aku merasa sedih...
Manusiaaa....
iyakah? apakah semua orang pernah merasakan hal yang sama? lalu, sebenarnya siapa yang egois? siapa yang hanya memikirkan diri sendiri? siapa yang hanya ingin ikuti inginnya sendiri? hmmhh.. sungguh egonyaa...
ID, EGO, SUPEREGO, akhirnya aku mengingat lagi teori itu..
dinamika jiwa, atau ke'labil'an jiwa? atau?
yaa.... jawaban yang kutemui saat internalisasi ini bergejolak adalah "DIA"...
sang maha pencipta, maha pengasih, maha penyayang... DIA maha pemberi nuuurr.. cahaya dalam tiap waktu.. kusadari, aku tak pernah sendiri.. aku tak pernah ditinggalkan olehNYA, kecuali sebaliknya.. jika aku yang menginginkan kesendirian itu, jika aku yang pergi dari NYA.. ya.. DIA sang maha segalanya... Energi bagi jiwa... yang tak pernah letih memberi berkah atas apapun..
SUBHANALLAH...........
THANKS GOD FOR EVERYTHING...
ME when am feeling lonely...
Selengkapnya...
AKHIR KISAH..
090909...
Bismillah..
Akan kulangkahkan kakiku dengan penuh tawakkal padaMU Ya Allah...
Hanya pada Engkau aku mengadu, padamu aku memohon..
Kuatkanlah jiwa ini, kuatkanlah hati ini
untuk bisa menjalani hari dengan penuh keyakinan atas kekuasaanMU..
Ya Allah..
Inikah jawaban semua istikharahku?
jawaban tangis dan pintaku padaMU?
inikah yang terbaik untuk hidupku?
Keperihan ini semoga menjadi cambuk besar dalam hidupku
Bahwa aku tidak punya kuasa melebihi apa yang Engkau kehendaki dariku..
Bahwa aku bukanlah apa-apa
begitu dhoifnya aku...
Ya Allah..
Aku ikhlaskan semua cobaan, perih dan sakit ini...
untuk mendapatkan ridloMU..
Berilah aku cobaan yang terberat sekalipun yang membuatku lebih bijak menghadapi hidup ini,,,
namun,,, berikan pula aku kekuatan menghadapinya dalam peluk kasihmu
dalam kehangatan rahmanMU... ridloMU..
Ya Allah....
salahkah jika aku menangis?
Salahkah aku menyesali semua yang kulakukan?
masih pantaskah aku memohon ampunanMU?
mengharapkan belas kasihMU?
Ya Allah...
Kumohonkan kekuatan atas semua cobaan, hukuman dunia, keperihan jiwa ini...
Agar terjauh dari segala nista dan kekufuran...
Agar tetap istiqomah menjalankan syariatMU...
Romadlon mulia..
berikan aku cambuk untuk bisa melangkah lebih kuat..
Semoga Engkau masih sudi memasukkanku dalam golongan mereka yang Engkau Ridloi
Orang-orang terpilihMU...
Ihdina Shirotol Mustaqiiim...
Shirotolladziina an'amta alaihim..
ghoiril maghddlubi 'alaihim
Wala dhdholliiiin....
Amien.....
Selengkapnya...
Untuknya yang kusayang...
Sesal di akhir tiada guna..
Kalimat ini klasik, tapi cukup membuatku tersadar. Setelah sekian lama berkutat dengan waktu, memperjuangkan yang ingin kumiliki, menafikan mereka yang peduli, mereka yang sayang, bahkan keluarga dan orang tua, demi seseorang yang menjadi cita dalam hidup. Kurasakan kini begitu pahit, ternyata semua yang kulakukan hanya sia-sia dan semua telah tiada arti. Dari awal hati ini bertanya tentang ketulusan, namun otakku selalu mengatakan bahwa akan ada terang dan masih ada harapan untuk berjuang. Aku pun berjuang, mengorbankan segalanya, memberikan segalanya, menguras segala energi, mendedikasikan diri, hingga karir, teman, sahabat bahkan keluarga. Aku ikhlas hidup hanya berteman sepi, perjalanan rumah kantor, dengan sesekali keluar untuk membeli kebutuhan yang pun harus dengan penuh kecurigaan. Besarnya rasa sayang, ketulusan, perhatian ternyata bukan ukuran,, yang dibutuhkan hanya kepuasa ego dan hakikat eksistensi diri.
Meski berat, aku harus pasrah. Aku hanya tak habis fikir, begitu tinggikah rasa ego itu? hingga tidak mempertimbangkan hal baik? sehingga merasa diri paling benar dan dengan angkuh melegalkan apapun yang ingin dilakukan. Kebohongan yang berkali kutemui, kalimat yang tak ada aplikasinya, tak lagi mengerti apa makna sayang dan benci. Tuduhan yang sejatinya dilakukan oleh diri sendiri. Semua orang tau bagaimana diri ini, semua orang tau bagaimana rasa ini, tapi tidak dia yang aku dedikasikan.
Aku bukan manusia sempurna, aku bukan malaikat, tapi aku terus berusaha untuk menjadi yang terbaik seperti yang dia ingin,, tapi semua sia-sia... semua kejujuran yang tak pernah dihargai, semua kalimat yang selalu dipandang dari sisi diri, ntahlah,,,
Semua ini begitu berat..
Adakah dia tau bahwa aku terus memikirkan kebaikannya dan itu yang membuatku tak bisa melupakannya. Adakah dia bisa merasakan sakit yang kurasakan? masih terngiang kalimat-kalimat yang sangat meyakinkan, tapi semua itu hancur dan dia hancurkan sendiri.
Ntah apa yang dicari, ntah apa yang diinginkan, ntah apa yang ingin dicapai dalam hidup ini.
Dengarlah...
Aku selalu mendoakan suksesnya, untuk keluarganya, ibu, bapak dan adik-adiknya,,,
Aku tau beratnya hidup yang dijalani, tanggung jawab yang dia emban, tuntutan mereka, karna itu aku selalu mengalah... aku mengerti perihnya.. aku mengerti kesusahannya...
Biarlah jika fikiran dan opini tentangku tak berubah, biarlah jika semua itu telah tertanam dalam benaknya, aku takkan menyalahkan,,, aku hanya ingin dia tau bahwa aku tak pernah berniat buruk terhadapnya,,,
Andai saja.. dia lebih terbuka..
andai saja.. semua berjalan sewajarnya..
andai saja.. seperti mereka yang menjalaninya terbuka...
Andai saja.. tak banyak yang ditutupi..
andai saja.. keberadaanku diakui..
Andai saja.. kesetaraan itu benar-benar ada...
Andai saja.. bisa menilai lebih positif, bisa melihat dari sisi objektif, bukan ego..
Andai saja dia bisa lebih bersahabat dengan orang sekitarku, dan berkomunikasi dengan mereka secara baik,,, dan tidak cepat mengklaim buruk semua orang... karna aku tak pernah menilai mereka yang menghabiskan waktu dengannya.. dimataku, manusia sama.. mereka punya sisi baik dan buruk,,
Aku telan dalam2 ketika dia menilai buruk orang sekitarku, teman, sahabat, tetangga, bahkan keluarga, kujalani semua dengan menjaga jarak dengan mereka, demi dia... bahkan untuk membantu orang tuaku acapkali jadi konflik dan tak sedikit orang tuaku mengalah,,, dan mereka mengerti kenapa semua itu aku lakukan..
apakah aku pernah menilai buruk satu pun temannya? sahabatnya? keluarganya? orang-orang sekitarnya?
Konsistensi terhadap apa yang dilarang, apa yang menjadi aturan, hanya berlaku untukku...
dan semua itu,,, kujalani dengan ikhlas.. kuhadapi semua demi dia...
Ah ntahlah... kisah ini begitu rumit, semua cerita yang ntah, kekecewaan, kemarahan telah menjadi biasa..
Yang menjadi sisa tanya, apa yang sebenarnya dia cari dan inginkan? Semoga dia mendapatkannya, meski bukan dariku..
Mungkin ini jawaban atas do'a orangtuaku, yang tak sedikit dianggap remeh..
Meski mereka pun telah berusaha yang terbaik untuk dia.. menghargai dia..
Karna mereka tau bahwa aku sangat menyayanginya....
Semoga masih ada jalan terang.. Amien..
Selengkapnya...
Surat Sayang Dari ALLAH SWT
Ketika aku terjaga dari tidur pulasku. aku mendapatkan sebuah surat suci dari RobbKu...
Aku tertegun dan tak sabar membacanya, aku telah lama melupakanNya.. tapi Dia tak pernah melupakanku..
Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin ...... Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi kerja ....... AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk .....
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU Melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya ....... masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU, meskipun saat engkau pulang kerumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan. Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU .........
Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun namaKU, kau sebut. Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do'a, pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya ...... engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU ........Tapi yang KU tunggu ........ tak kunjung tiba ...... tak juga kau menyapaKU.
Subuh ........ Dzuhur ....... Ashar .......... Magrib ......... Isya dan Subuh kembali, kau masih mengacuhkan AKU ..... tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU ..........
Apa salahKU padamu ...... wahai UmmatKU????? Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU berikan, harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan, anak-anak yang KUrahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKU ............ !!!!!!!
Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa KU, memohon perlindungan KU, bersujud menghadap KU ...... Yang selalu menyertaimu setiap saat ........
Selengkapnya...





