Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Konspirasi pembunuhan putra mahkota

Agak panjang tapi kisahnya menarik gan,Edoardo adalah pewaris tahta keluarga agnelli yang terkenal akan bisnis mobil dan pemilik klub sepakbola Juventus,berikut kisahnya

Misteri Kematian Putra Mahkota Keluarga Agnelli


Kematian memang suatu hal yang tidak bisa dihindari oleh setiap manusia di bumi ini. apapun bentuknya, siapapun dirinya, bila saatnya tiba , kematian itu akan datang tepat pada waktunya.

Sesuatu yang menyakitkan bila kita mendengar kabar bahwa salah satu dari sanak saudara kita menghadapi maut yang tak bisa digantikan apapun untuk mengembalikan hidupnya. Tapi hal ini adalah hal yang dianggap biasa oleh sebuah Keluarga besar yang telah memiliki nama besar selama kurang lebih satu abad di kota turin. Mereka adalah keluarga Agnelli. Kekayaan yang melimpah dan pengaruh mereka atas kemakmuran Negara italia sejak abad 19 membuat keluarga ini sangatlah di Hormati oleh hampir seluruh rakyat italia di bagian utara Negara itu.

Bagaimana tidak? selama berpuluh-puluh tahun keluarga Agnelli mampu menghidupi berjuta-juta warga italia dan menjauhi mereka dari kemiskinan. Dinasti Agnelli diyakini sebagai ‘Sang keajaiban’.sebab lewat bisnis merekalah Negara italia bisa keluar dari kemiskinan dan meninggalkan citra Negara penghasil tomat dan Pasta dan menjadi sebuah Negara industri di eropa.

Adalah bisnis Keluarga Agnelli yang bergerak di bidang perindustrian pembuatan Mobil Fiat yang sangat terkenal di era dekade 50an. Khususnya di seluruh bagian utara italia, nama keluarga Agnelli ini sungguh membuat telinga kita panas dibuatnya bila mendengarkan serentetan prestasi dan aksi yang mereka lakukan demi Italia.

Symbol Agnelli ini hampir menghiasi seluruh kehidupan di kota turin khususnya. Generasi tersukses yang dirasakan keluarga agnelli saat dimana Gianni Agnelli lahir menjadi pebisnis ulung yang sangat ditakuti lawan-lawannya. Di era Gianni Agnelli usaha Fiat terus melejit. Perusahaan raksasa mobil Fiat yang dijalankan Gianni Agnelii mencatat penjualan tertinggi USD2,1milliar pertahunnya, yakni dengan melahirkan 1.750.000 unit mobil.dan Fiat pun menempati posisi sebagai perusahaan otomotif terbesar keenam di dunia dan pertama di italia. tak hanya itu saja,Lewat klub sepakbola juventus yang mereka miliki nama besar mereka semakin dikenal dunia.

Giovanni Agnelli yang lebih dikenal dengan nama Gianni ini adalah generasi ketiga Agnelli. Orang di italia menyebutnya IL Re,atau sang Raja. Gianni memiliki seorang putra bernama Edoardo.dan Edoardo adalah putra pertamanya, sosok yang dikenal di mata orang-orang italia sebagai Putra Mahkota.


Sebagai generasi ke empat keluarga Agnelli, Edoardo telah merasakan bagaimana nikmatnya hidup serba mewah dan berkelimpahan sejak dirinya dilahirkan ke dunia. Tapi apakah ini yang dicari seorang Edoardo sejak kecil? Justru malah sebaliknya. Kemewahan yang selalu mengiringi setiap langkahnya membuat dirinya merasa membawa sebuah beban berat yang selalu membuatnya resah. Hal ini dirasakannya disaat dirinya mulai mengerti arti sebuah kehidupan, kehidupan yang telah lama membuatnya mati oleh aturan-aturan kuno yang diciptakan dan harus dijalankan oleh seluruh anggota keluarga Agnelli.

Kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang baru dan tidak membosankan telah lama dipikirkan oleh seorang Edoardo. Pada akhir dekade 70 an , setelah menyelesaikan sekolahnya di inggris, edoardo memutuskan untuk melanjutkan studinya di Princeton yang sangat terkenal di Amerika, dan mengambil jurusan Filsafat, sesuatu yang tidak pernah disetujui oleh ayahnya yang mengingkan anak putra satu-satunya mengikuti jejak sang ayah dengan belajar bisnis.

Edoardo yang keras kepala tetap melakukan apa yang dinginkannya. Disinilah awal dari ketidak cocokan sang ayah yang mengetahui dan sadar bahwa edoardo bukanlah seorang pewaris keluarga yang diharapkan. Awal kebencian ini tumbuh sampai dimana edoardo memutuskan untuk menggeluti lebih dalam tentang ajaran agama Islam. Sebuah hal baru yang ditemukannya pertama kali disebuah perpustakaan di Princeton. Sebuah buku yang disebut Al-Quran telah mengubah pikiran dan hatinya. Keunikan yang di ajarkan oleh agama Islam telah membuatnya yakin akan pilihannya. Sesuatu yang membuatnya sadar bahwa dia telah menemukan apa yang telah lama dicarinya.

Bau busuk yang menyengat yang dirasakan keluarga kerajaan Agnelli akhirnya sampai juga.dari kejauhan kota turin mereka melakukan penjemputan paksa layaknya seorang anak kecil yang merengek-rengek untuk tetap berada di sebuah tempat hiburan yang tak kunjung henti.

Bagi Gianni agnelli , Amerika telah merubah anaknya. Sesuatu yang mereka anggap sesat telah merusak dan menodai keluarga kerajaan. Apa yang dirasakan sang ayah memang sebuah malapetaka yang akan membuat mimpi edoardo yakni mencapai hidup sempurna yang jauh dari kebisingan musnah. Sang ayah telah memutuskan tali kehidupan edoardo yang baru. Hidup bagaikan di sebuah penjara besar di kota turin. Apapun yang dilakukan edoardo adalah sebuah alarm yang berbunyi kencang bagi seorang Agnelli. Ketidakbebasan yang dirasakan edoardo ini semakin membuatnya merasa tertantang untuk melakukan sesuatu yang lebih membahayakan dirinya sendiri.



Berkali-kali edoardo tertangkap basah oleh mata-mata yang disiapkan ayahnya untuk mengikuti jejak edoardo yang mencoba ingin melakukan perjalanan jauh meninggalkan italia. Adalah sebuah krisis Iran pasca Revolusi Islam, yang membuat edoardo tergerak hatinya untuk segera kabur dan menuju Iran. Sebuah tempat yang selalu didambakannya dan yang pada akhirnya menjadi rumah nomor dua Edoardo setelah Italia.

Entah mengapa Edoardo begitu mencintai Iran. Disaat Negara seperti amerika yang telah menyatakan bahwa iran adalah sebuah Negara yang haus darah, dan saat dimana Iran dicecar di seluruh pelosok bumi, Seorang putra mahkota justru sebaliknya. Rasa penasaran yang besar ingin mengetahui siapa diri seorang Khomeini dan revolusi islam telah menguatkan dirinya untuk segera berhadapan langsung dengan orang yang selalu dicarinya.

Berkali-kali edoardo terlihat duduk tak jauh dari tempat dimana seorang guru besar islam Iran Khomeini berada. Mereka beberapa kali melakukan shalat jumat bersama di beberapa mesjid terkenal di Iran. Dan keramahan yang dirasakan edoardo disaat Khomeini menciumnya seperti keluarganya membuat dirinya semakin kerasan berada di tempat yang entah berantah tidak pernah dikenal sebelumnya.

Selama di Iran, edoardo banyak mempelajari Hal baru. Edoardo lebih sering membaca buku kitab suci Al quran dan belajar sejarah mengenai Nabi Muhammad , sesuatu yang lebih dia gemari dan dia pilih ketimbang menghabiskan waktu bersama para pemain juventus, ataupun kebut-kebutan di jalan dengan mobil-mobil mewah milik keluarganya. Edoardo adalah seorang lelaki putra mahkota italia yang telah menemukan arti pentinganya sebuah kebesaran agama islam. Edoardo telah menemukan apa yang di inginkannya. Dia pernah mengungkapkan ke beberapa teman dekatnya.bahwa hidupnya telah dilahirkan baru. Dan dirinya sungguh merasakan kebahagiaan yang tak mungkin diraihnya selama dia masih berada di genggaman keluarga Agnelli. Edoardo diyakini telah menjadi seorang muslim sejati.

Sebuah akhir yang begitu sempurna yang dirasakan edoardo, tapi tidak dengan keluarga Agnelli. Keluarganya yang akhirnya tahu bahwa edoardo sungguh serius telah menjauhi keluarga agnelii demi sebuah ajaran Islam, marah besar. Bagi Gianni Agnelli ini adalah sebuah Fakta yang sulit diterima. Keluarga yang begitu terpandang di seluruh italia, sebuah keluarga yang taat akan ajaran tradisi agama Katolik, dan salah satu penyumbang dana terbesar ke Vatikan, dan pilihan edoardo untuk pindah ajaran agama adalah sebuah penyelewengan yang tidak bisa dimaafkan.

Sebuah harga yang sungguh mahal harus dibayar oleh seorang Edoardo.dan membayarnya dengan sebuah nyawa. Kesedihan dan kehancuran yang telah dirasakannya sejak kecil yang dibangun oleh kerajaan agnelli telah dibawa pergi oleh sebuah kematian. Kematian yang berujung sebuah kontroversi. Sebuah cerita yang berakhir dengan penuh tanda Tanya besar. Kematian yang ditangisi banyak orang di iran begitu juga kebingungan dan kecemasan yang dirasakan warga turin.

Tepatnya pada 15 november 2000, sebuah jasad manusia di temukan di kaki jembatan Generale Franco Romano yang memiliki ketinggian 80 meter. Polisi setempat meyakini setelah mengenali wajah lelaki tersebut adalah Edoardo Agnelii. Putra mahkota keluarga Gianni Agnelli. Di Koran-koran italia banyak yang mengungkapkan bahwa edoardo telah melakukan aksi bunuh diri, sesuatu hal yang tidak pernah dilakukannya. Karena hasil penelitian mengungkapkan, disaat jasad edoardo di temukan, wajah serta tulang badannya masih utuh dan tidak ada yang patah. Bagaimana mungkin bahwa seorang lelaki dengan berat badan 120 kilogram melompat dari ketinggian 80 meter yang akan menghujam tanah kurang lebih dengan kecepatan 150 kilometer perjam tidak mengalami patah tulang? Itulah isyarat jelas bahwa edoardo tidak pernah melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari jembatan Generale Franco Romano.

Apalagi jembatan Generale Franco Romano terkenal sangat ramai sekali, setidaknya ada kendaraan yang lewat selang 5-10 detik, terlebih lagi wajah edoardo yang cukup dikenali oleh setiap warga turin. Bagaimanapun wajahnya akan dikenali seseorang yang melintas bilamana edoardo berusaha menaiki badan jembatan dan kemudian melompat.dan sungguh aneh bila tak ada satupun orang yang akan memberikan kesaksian di hari saat edoardo bunuh diri.

Kejanggalan seputar kematian edoardo telah membuat resah warga italia. pasalnya banyak hasil investigasi yang sangat menyimpang, banyak hal yang tidak masuk akal terjadi. Dan permainan kotor para pihak yang bertanggung jawab atas jasad edoardo pun mulai jelas terlihat. Misalnya keharusan otopsi yang sepantasnya dilakukan tim medis tidak pernah dilakukan. Permainan kotor yang tidak begitu sempurna ini semakin terasa oleh public italia yang menyebutnya dengan “kebodohan dan kecerobohan keluarga Mafia”.



Kematian edoardo membuahkan pelajaran penting dalam kehidupan, ’disaat kau telah menemukan apa yang menurutmu benar, hal itu patut diperjuangkan walau sebuah nyawa harus dipertaruhkan.’ Selamat jalan, Edoardo.
Selengkapnya...

MUARA JAMBI ARCHAEOLOGICAL SITE

Written by: Junus Satrio Atmodjo
Translated by: the Blog owner

MUARAJAMBI is located on Batanghari riverside, around 22 kilometers eastern Jambi city, exactly in Muarajambi village, Marosebo sub-district, Muaro Jambi regency.

The name of Muarajambi first appeared in western literature on a report written by a navy officer from United Kingdom named S.C. Crooke in 1883. The officer was assigned by colonial governance center in Madras, India to do mapping (survey) on hydrology and to record regions along the Batanghari River for military concern.

In his record, Crooke mentioned that he saw ruins of brick construction in the Muarajambi forest. He also reported finding of a stone elephant sculpture. As an evidence of the visit, Crooke brought a sculpture head having curly hair like a wig belongs to judge in England to Penang Island, Malaysia.

Crooke’s description about the sculpture hair model may figure Buddha sculpture having its hair chiseled like that. He also wrote about the host villagers’ conviction saying that Muarajambi has ever been a capital of an ancient kingdom (Anderson, 1971: 396). Beside the relics in Muarajambi, Crooke also revealed his witness about Hindu sculptures – he means Buddhists – found in Jambi city.

The Crooke shallow information then enriched by T. Adam, a Dutchman visiting Jambi in 1921. He mentioned some sculptures that he recognized as elephant sculpture, standing Buddha, an object like a mortar and a stone throne or padmasana.

Adam also saw brick construction ruins in Muarajambi, though his attention was more on Candi Stano (Astano = grave) in the hind village which structure was partially seen. Similar to Crooke, Adam did not mention other archaeological heritage except construction and statue (1921:194 – 197). Since he only recorded findings within the village and was not going further into jungle.

Thirteen years later, F.M. Schnitger visited Muarajambi. He repeated what Adam did by collecting additional information about names of new temples, they are Gumpung, Tinggi, Gunung Perak, Gudang Garem, Gedong I and Gedong II (Schnitger, 1937:6; 1964:19).

During his stay in Muarajambi, Schnitger did excavation in the inner part of some temples. Though, the found artifacts have not been reported in his writing. It should be noted that Schnitger is the first scholar relating the Muarajambi Site to ancient Malay (Mo-lo-yeu) mentioned in Chinese manuscript XVII century. He went through a small river called Melayu in western part of Muarajambi village as basic argumentation.

In 1954, this site was researched by archaeologist of Indonesia. At that time, the research was conducted by Department of Education and Culture team lead by R. Soekmono. Crooke, Adam and Schnitger records are used as reference. The team took new photos to enrich the existing collection (Soekmono, 1984: 15-16). They assumed there is relation between this site and Sriwijaya kingdom, without leaving further explanation.

For about 20 years, the attention against the Muarajambi Site practically stopped. Then in 1975, restoration was started by Directorate of History and Archaeology, Department of Education and Culture. During forest sweeping mission, the workers in the field successfully showed large seven temples area: Kotomahligai, Kedaton, Gedong I and II, Gumpung, Tinggi, Kembarbatu, dan Astano.

A 10x120 meter pound was also found on the southern Candi Tinggi , which the host villager called Telagorajo. Surprisingly, the name of Gudang Garem and Gunung Perak as reported by Schnitger was not known by the villagers.

Archaeological information of Muarajambi Site is more complete after Bakosurtanal (National Survey and Mapping Coordination Board) did aerial photo on the temples area in 1985. This photograph has produced an accurate basic map consisting information about distribution of ancient building, canal system, and the site micro physic area data. It is visibly on the map that the Muarajambi Site has canal system which is made encircling natural levee.

Apparently there are more temples than initially seven temples known after the finding of about 40 more menapo. Menapo is a hill of bricks originally the ruins of building or narrow yard surrounded by trench made by ancient people.

Of the photograph, it is identified that the Batanghari River stream moved into southern part of the site which was previously nearby. The villagers’ houses in Muarajambi village are at present built on a new natural levee which is not as old as the Muarajambi Site.

Through the research since 1972 to 1995, National Archaeological Research Centre concluded Muarajambi has ever been multitude settlement. Thousands fragments of ceramic found during the research, excluding ceramics found together with other cultural articles after the restoration and paths making.

The Site occupant had admitted writing. This is shown on finding of some short inscriptions written on old Javanese which are revealed on the brick surface. Amongst are read as si, ma, ya, hra, hu, or ka. Some are not singular letter, but short word like nanaya (Suhadi, 1985: 259).

The effort to identify age of the temples applying paleography became more complete after finding of inscribed golden plaque from both temples areas. Boechari summarized relative age of both areas started from IX to XII century (Boechari, 1985:238).

The Boechari’s summary similar to Abu Ridho analysis applying Chinese ceramic as the research object. The observation against formal aspect of the ceramics (form, material, style and color) has lead to a summary that the majority is from China since XI to XIV century.

In less number, there were ceramics from Southeast Asia, namely Thailand, Khmer (Cambodia) and Myanmar (Burma) made of porcelain or stoneware. The ceramics from Southeast Asia are younger than the ceramics from China, as they are there since XIII century and after (Ridho, 1995).

Apparently, it is found that not all imported ceramics are made of porcelain or stone. There are many ceramic ruins made of shard. The material color is brown reddish or yellow reddish, thin, hard, and soft surface. The shard burning is done in high temperature over or almost 1.000 Celsius.

Abu Ridlo predicted the shards are from Thailand, particularly Satingpra in Southern part of the country which is known as one of the most important shard producer within Southeast Asia. The shapes are mostly in form of vessel or high-necked vase.

This characteristic differs to local shard ceramic which surface is rough, yellowish or yellow brownish, thick, fragile and often has decoration like ocher red lines. The local ceramics are also found in form of vessel, cooking pot, traditional oil lamp, pitcher or crock. In addition to those shapes, concave cap fragments and stove were also found.

Few white and broken white earthenware shards with turquoise glazing were also found in Muarajambi. This fragile and thick earthenware vessels are not local or China product, but are from West Asia, namely Persia or Iran.

In VIII – XII century, trading between China and Iran were through land and sea routes. Sumatera was one of port for ships from both countries during their journey. The trader from both Persia and China might stop by Muarajambi bringing the glazed shards to exchange with local commodity.

In addition to the ceramics, Muarajambi Site also brought to finding of some small beads made of stone and glass. The stone are chalcedony made of orange white cornelian, and agate stone with white and black lines forming lining. The shapes are miscellaneous, tetragonal double cone, spherical and oval.

Glass beads discovered during the surface excavation and survey are in various colors: light red, red brownish, yellow, green, green yellowish, and blue. Finding of glass fragments in the form of conglomeration of hundreds black beads nearby Candi Astano becoming indication that the Muarajambi community has ever produced beads.

This prediction is reasonable as the Puslitarkenas research in 1987 surrounding the temple found hundreds stone, glass and terracotta beads either broken or intact. In the same time, some glass trickle remains, combustion residue, curdled beads clod and crucible which indicate glass processing activities (Hardiati, 1988: 229).

Gold coin, gold ring and other gold jewelry scraps were also discovered, as well as artifacts found in Muarajambi Site in different occasion. Gold artifacts were mostly discovered in peripih of main building of Candi Gumpung and ancillary buildings in Candi Tinggi and Kembarbatu.

The gold metals are in form of thin plaques, some others are made like jewelry. In the same time, small red, purple and blue jewels were also found. Two purple stone have inscription written on siddham (prenagari).

Only few bronze articles were found in Muarajambi Site and were not intact. Among the found bronze statue remains are part of wrist with chakra motif chiseled on the foot. The wrist is confirmed coming from Buddhist statue (Utomo, 1984: 72-73)

Other bronze artifact finding was giant bronze vessel in 1994 in eastern Candi Kedaton. This vessel is the only big bronze artifact which is discovered fully. The height is 67 centimeters, diameter 78 centimeters, and weight 250 kilograms. The function has not yet identified. Considering that the discovery nearby temple, the bronze vessel is suspected having connection with religious ceremonies.

The nearby ancient buildings location in Muarajambi enabled the host community mobility. This is reflected from the distance between the temple buildings and menapo which is around 300 meter far. The finding of thousands ceramic artifacts surrounding the temple impressed the host community concentration living nearby the temple area (Rangkuti and Rosita, 1988).

Watching the concentrated finding of archaeological sites, many experts then connecting the Muarajambi Site to ancient Malay Kingdom as what Schnitger revealed. This prediction is reasonable after identifying no other sites in Jambi having such concentrated archaeological heritage except Muarajambi.

The length of sites which is more than seven kilometers and the width of 200 – 400 meter becoming adequate reason to predict the important role of the Site in the ancient time. More support either from individual or organization is required to discover the bunch of archaeological heritage in Muarajambi.

Yet, so far there has no expert surely identify the site as governance centre of the ancient Malay kingdom, unless connecting it to the kingdom based on its age.

Selengkapnya...